Dato Godam

public profile

Share your family tree and photos with the people you know and love

  • Build your family tree online
  • Share photos and videos
  • Smart Matching™ technology
  • Free!

Share

About Dato Godam

Pada zaman pemerintahan Sultan Nasruddin (Sultan Brunei ke-15) tahun 1690-1710. Pada waktu itu seorang kerabat diraja Minangkabau yang bernama “Raja Umar” atau dikenal dengan gelar Dato Godam datang ke Brunei dengan menyamar sebagai saudagar. Beliau merupakan keturunan Bendahara Tanjung Sungayang, Pagaruyung. Ayah Dato Godam yang bernama Bendahara Harun kawin dengan seorang wanita Belanda yaitu anak Jan Van Groenewegen yang menjabat sebagai Residen Belanda di Padang. Menurut adat Minangkabau, Bendahara Harun merupakan anggota “Basa Ampek Balai” yang menjalankan administrasi kerajaan bersama-sama. Keputusan “Basa Ampek Balai” sebelum dijalankan haruslah mendapat persetujuan dari Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat. Raja Alam merupakan penguasa kerajaan dan menguasai hukum menurut adat yang turun temurun. Raja Ibadat adalah raja yang menguasai hukum Islam sebelum dijalankan di tengah masyarakat. Dewan “Basa Ampek Balai” tersebut terdiri dari Bendahara di Sungai Tarap, Tuan Gadang di Batipuh, Raja Indomo di Saruaso dan Angku Kadi di Padang Ganting. Setiap perkara yang akan dijalankan dalam masyarakat Minangkabau hendaklah terlebih dahulu dimusyawarahkan dalam rapat “Basa Ampek Balai”. Setelah diputuskan barulah masalah itu dihadapkan kepada Raja Adat dan Raja Ibadat. Apabila pendapat itu tidak bertentangan dengan adat dan hukum Islam barulah disampaikan kepada Raja Alam untuk disahkan.


Pada tahun 1662, Jan Van Groenewegen dipindahtugaskan sebagai pejabat VOC ke Padang setelah sebelumnya menjadi Residen Aceh pada tahun 1660. Dia dikenal memiliki pengalaman luas karena banyak bergaul dengan masyarakat dan mengetahui seluk beluk adat istiadat setempat. Keahliannya dalam administrasi pemerintahan menyebabkannya disukai Sultan Aceh. Apalagi kemampuannya menarik perhatian orang dalam pergaulan. Anak Jan Van Groenewegen kemudian kawin dengan Bendahara Harun yang kemudian melahirkan Dato Godam.


Dato Godam sejak dini telah disiapkan sebagai pengganti ayahnya menjadi Bendahara. Ia merupakan anak sulung dari Bendahara Harun. Namun orang Minangkabau yang fanatik kepada adat sangat memandang rendah kepadanya karena beliau bukanlah putera Minangkabau asli. Meskipun merupakan anak yang layak menggantikan bapak, namun pandangan masyarakat tersebut menyebabkan perasaannya menjadi tidak senang. Hal itulah yang menyebabkan timbul keinginannya untuk “lari” ke Serawak. Kepergiannya itu telah membuat hati bapaknya menjadi sedih sehingga pernah diutus suatu rombongan untuk mencari Dato Godam.


Setelah sampai di Serawak, Dato Godam bertemu dengan Pangeran Tumenggung Pangeran Abdul Kadir. Secara kebetulan kedua-duanya merupakan orang pelarian karena kecewa. Pangeran Tumenggung Pangeran Abdul Kadir “lari” ke Serawak karena kecewa sebab anak perempuannya dipinang oleh Raja Brunei yaitu Sultan Nasruddin untuk dijadikan istri ketiga. Karena rasa senasib sepenanggungan itu, akhirnya Dato Godam menerima ajakan Pangeran Tumenggung Pangeran Abdul Kadir yang masih keturunan bangsawan Brunei untuk pergi ke Brunei.


Dato Godam merupakan seorang yang bijaksana dan terdidik serta memiliki pengetahuan yang tinggi sehingga dirinya cepat dikenal di Brunei. Kehadirannya disambut baik oleh Sultan yang memerintah yaitu Sultan Nasruddin karena dinilai memiliki pengetahuan dan kecakapan dalam menjalankan pemerintahan. Sultan Brunei meminta Dato Godam menetap di Brunei dan disuruh menikah. Karena merasa “berhutang budi”, Sultan Nasruddin menawari Dato Godam permintaan apa saja untuk dipenuhi. Dato Godam kemudian menyatakan keinginannya mempersunting anak Pengiran Tumenggong Pengiran Abdul Kadir yang menjadi istri ketiga Sultan. Permintaan tersebut dikabulkan Sultan. Bersama perempuan bernama Tandang Sari inilah, Dato Godam kemudian mendapatkan dua orang anak yaitu Manteri Uban dan Manteri Puteh. Dato Godam berjasa menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi pada waktu itu sehingga beliau semakin disukai Sultan. Apa yang dilakukannya tidak lepas dari pengalamannya di Kerajaan Minangkabau.


Atas permintaan ayahnya Bendahara Harun, Dato Godam bermaksud meninggalkan Brunei untuk kembali ke Minangkabau dengan membawa anaknya, Manteri Uban (nama sebenarnya Abdul Rahman). Dengan berat hati Sultan Nasruddin memberi izin dengan syarat agar anak keduanya, Manteri Puteh tetap tinggal di Brunei sebagai cikal bakal administrator pemerintahan dan diharapkan memiliki loyalitas yang tinggi kepada Sultan sebagaimana yang telah ditunjukkan Dato Godam. Disamping itu, Sultan Nasruddin berjanji akan menganugerahkan keistimewaan kepada anak cucu Dato Godam sebagai keturunan bangsawan sebagaimana di Minangkabau. Keturunan inilah yang sekarang disebut ‘Awang-awang Damit’ dan dipilih oleh para Sultan Brunei untuk dianugerahi gelar ‘manteri’ yaitu pembesar negara yang turun temurun.


Dari Brunei, Dato Godam singgah di Serawak untuk menemui mertuanya, Pengiran Temenggong Pengiran Abdul Kadir yang menetap di Pusa. Tidak lama sesudah pertemuan tersebut, sang mertua meninggal dunia sehingga Dato Godam tidak meneruskan perjalanannya ke Minangkabau. Akhirnya Dato Godam memutuskan menetap di Pusa sampai meninggal dunia dan dimakamkan di sana. Makam Dato Godam dan mertuanya terletak di dekat Sungai Telit. Sedangkan tidak jauh dari sana terdapat satu batu nisan Tandang Sari. Paras rupa istri Dato Godam tersebut sangat cantik dan konon kabarnya, Tandang Sari kemudian bunuh diri untuk menghindari fitnah orang banyak akibat banyaknya laki-laki yang tergila-gila dan mengikutinya.


Sejak meninggalnya Dato Godam, Manteri Uban tidak kembali ke Minangkabau dan tetap tinggal di Serawak. Meskipun pernah ke Minangkabau untuk berziarah, beliau kemudian kembali lagi ke Serawak. Bekas kapal yang digunakan untuk berlayar ke Minangkabau itu masih bisa ditemui di Seri Aman, Serawak sampai saat ini.(Oleh: H. Efri Yoni) Baikoenihttp://baikoeni.multiply.com/journal/item/6/6

http://jannaton.net/salasilah/SilsilahRajaMinangkabauNSJannatonKaul.pdf

--------------------

Buku Dato Godam ini merupakan jilid yang pertama. Kandungannya antara lain mencatatkan susur-galur dan jurai keturunan Dato Godam hingga masa kini. Dato Godam atau Raja Umar bin Bendahara Harun adalah putera Diraja Minangkabau yang datang dan berkahwin di Brunei pada zaman pemerintahan Sultan Nasruddin ( Sultan Brunei Ke-15, memerintah 1690-1710). Menurut Sejarah Brunei, khususnya pada zaman yang disebutkan, diriwayatkan bahawa Dato Godam mempunyai peranan yang istimewa dalam membantu Sultan Nasruddin menjalankan pemerintahan dan pentadbiran baginda. Sebagai mengingati jasa-jasa beliau itu, Sultan Brunei telah berjanji akan mengurniakan keistimewaan kepada anak cucu Dato Godam yang ada di Brunei turun-temurun. Sehingga zaman ini keturunan Dato Godam tersebut dianggap sebagai keluarga yang bertaraf tinggi sebagaimana taraf Dato Godam di Minangkabau, dan mereka digolongkan sebagai keturunan Awang-Awang Damit'. Daripada keturunan Dato Godam inilah juga dipilih oleh Sultan-Sultan Brunei untuk dikurniakan gelaran 'Manteri', iaitu pembesar negara yang turun-temurun, sebagaimana akan dinyatakan riwayat sebahagiannya dalam buku ini.

    Buku ini mengandungi 32 bab yang memaparkan beberapa tokoh utama daripada kalangan keturunan Dato Godam iaitu Manteri Uban, Manteri Puteh, Manteri Omar, Pehin Tuan Iman Awang Aminudin, Pehin Jawatan Dalam Awang Ahad, Awang Untong, Nakhoda Asmat, Pehin Orang Kaya Laila Pahlawan Tunjol, Syed Hasan, Bungku Zaleha, Dayang Sharbanun, Awang Badaruddin, Awang Tahir, Awang Muhammad, Dayang Lamiah, Awang Abu Bakar, Pehin Khatib Haji Awang Abdul Latif, Pehin Datu Perdana Manteri Radin Haji Abdul Rahman, Nakhoda Haji Awang Abbas, Pehin Orang Kaya Ratna Diraja Awang Abdul Karim, Pehin Datu Perdana Menteri, Pehin Orang Kaya Digadong Seri Nara Indera Pengiran Seri Ahmad, Awang Mirasan, Awang Ibrahim, Penglima Othman, Awang Sulaiman, Awang Aliuddin, Manteri Mariam, Awang Abdul Hgafur, Awang Mat Serudin, dan Pehin Orang Kaya Shahbandar Awang Muhammad Salleh. Tokoh-tokoh inilah yang menurunkan zuriat Dato Godam hingga sekarang.
    Diharapkan buku ini akan dapat menjadi rujukan bagi mereka yang berkenaan dalam menentukan asal usul dan jalinan keluarga masing-masing. Di samping itu akan dapat pula merapatkan semula hubungan kekeluargaan mereka yang bertempiaran supaya tidak akan terus menular mengikut arus yang boleh merenggangkan atau memutuskan hubungan tersebut.

http://www.pusat-sejarah.gov.bn/b-datogodam-sinopsis.htm -------------------- Dari article Menelusuri Jejak Pengaruh "Minangkabau" di Brunei Darussalam, catatan H. Efri Yoni Baikoeni http://baikoeni.multiply.com/journal/item/6

Pada zaman pemerintahan Sultan Nasruddin (Sultan Brunei ke-15) tahun 1690-1710. Pada waktu itu seorang kerabat diraja Minangkabau yang bernama “Raja Umar” atau dikenal dengan gelar Dato Godam datang ke Brunei dengan menyamar sebagai saudagar. Beliau merupakan keturunan Bendahara Tanjung Sungayang, Pagaruyung. Ayah Dato Godam yang bernama Bendahara Harun kawin dengan seorang wanita Belanda yaitu anak Jan Van Groenewegen yang menjabat sebagai Residen Belanda di Padang. Menurut adat Minangkabau, Bendahara Harun merupakan anggota “Basa Ampek Balai” yang menjalankan administrasi kerajaan bersama-sama. Keputusan “Basa Ampek Balai” sebelum dijalankan haruslah mendapat persetujuan dari Raja Alam, Raja Adat dan Raja Ibadat. Raja Alam merupakan penguasa kerajaan dan menguasai hukum menurut adat yang turun temurun. Raja Ibadat adalah raja yang menguasai hukum Islam sebelum dijalankan di tengah masyarakat. Dewan “Basa Ampek Balai” tersebut terdiri dari Bendahara di Sungai Tarap, Tuan Gadang di Batipuh, Raja Indomo di Saruaso dan Angku Kadi di Padang Ganting. Setiap perkara yang akan dijalankan dalam masyarakat Minangkabau hendaklah terlebih dahulu dimusyawarahkan dalam rapat “Basa Ampek Balai”. Setelah diputuskan barulah masalah itu dihadapkan kepada Raja Adat dan Raja Ibadat. Apabila pendapat itu tidak bertentangan dengan adat dan hukum Islam barulah disampaikan kepada Raja Alam untuk disahkan.

Pada tahun 1662, Jan Van Groenewegen dipindahtugaskan sebagai pejabat VOC ke Padang setelah sebelumnya menjadi Residen Aceh pada tahun 1660. Dia dikenal memiliki pengalaman luas karena banyak bergaul dengan masyarakat dan mengetahui seluk beluk adat istiadat setempat. Keahliannya dalam administrasi pemerintahan menyebabkannya disukai Sultan Aceh. Apalagi kemampuannya menarik perhatian orang dalam pergaulan. Anak Jan Van Groenewegen kemudian kawin dengan Bendahara Harun yang kemudian melahirkan Dato Godam.

Dato Godam sejak dini telah disiapkan sebagai pengganti ayahnya menjadi Bendahara. Ia merupakan anak sulung dari Bendahara Harun. Namun orang Minangkabau yang fanatik kepada adat sangat memandang rendah kepadanya karena beliau bukanlah putera Minangkabau asli. Meskipun merupakan anak yang layak menggantikan bapak, namun pandangan masyarakat tersebut menyebabkan perasaannya menjadi tidak senang. Hal itulah yang menyebabkan timbul keinginannya untuk “lari” ke Serawak. Kepergiannya itu telah membuat hati bapaknya menjadi sedih sehingga pernah diutus suatu rombongan untuk mencari Dato Godam.

Setelah sampai di Serawak, Dato Godam bertemu dengan Pangeran Tumenggung Pangeran Abdul Kadir. Secara kebetulan kedua-duanya merupakan orang pelarian karena kecewa. Pangeran Tumenggung Pangeran Abdul Kadir “lari” ke Serawak karena kecewa sebab anak perempuannya dipinang oleh Raja Brunei yaitu Sultan Nasruddin untuk dijadikan istri ketiga. Karena rasa senasib sepenanggungan itu, akhirnya Dato Godam menerima ajakan Pangeran Tumenggung Pangeran Abdul Kadir yang masih keturunan bangsawan Brunei untuk pergi ke Brunei.

Dato Godam merupakan seorang yang bijaksana dan terdidik serta memiliki pengetahuan yang tinggi sehingga dirinya cepat dikenal di Brunei. Kehadirannya disambut baik oleh Sultan yang memerintah yaitu Sultan Nasruddin karena dinilai memiliki pengetahuan dan kecakapan dalam menjalankan pemerintahan. Sultan Brunei meminta Dato Godam menetap di Brunei dan disuruh menikah. Karena merasa “berhutang budi”, Sultan Nasruddin menawari Dato Godam permintaan apa saja untuk dipenuhi. Dato Godam kemudian menyatakan keinginannya mempersunting anak Pengiran Tumenggong Pengiran Abdul Kadir yang menjadi istri ketiga Sultan. Permintaan tersebut dikabulkan Sultan. Bersama perempuan bernama Tandang Sari inilah, Dato Godam kemudian mendapatkan dua orang anak yaitu Manteri Uban dan Manteri Puteh. Dato Godam berjasa menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi pada waktu itu sehingga beliau semakin disukai Sultan. Apa yang dilakukannya tidak lepas dari pengalamannya di Kerajaan Minangkabau.

Atas permintaan ayahnya Bendahara Harun, Dato Godam bermaksud meninggalkan Brunei untuk kembali ke Minangkabau dengan membawa anaknya, Manteri Uban (nama sebenarnya Abdul Rahman). Dengan berat hati Sultan Nasruddin memberi izin dengan syarat agar anak keduanya, Manteri Puteh tetap tinggal di Brunei sebagai cikal bakal administrator pemerintahan dan diharapkan memiliki loyalitas yang tinggi kepada Sultan sebagaimana yang telah ditunjukkan Dato Godam. Disamping itu, Sultan Nasruddin berjanji akan menganugerahkan keistimewaan kepada anak cucu Dato Godam sebagai keturunan bangsawan sebagaimana di Minangkabau. Keturunan inilah yang sekarang disebut ‘Awang-awang Damit’ dan dipilih oleh para Sultan Brunei untuk dianugerahi gelar ‘manteri’ yaitu pembesar negara yang turun temurun.

Dari Brunei, Dato Godam singgah di Serawak untuk menemui mertuanya, Pengiran Temenggong Pengiran Abdul Kadir yang menetap di Pusa. Tidak lama sesudah pertemuan tersebut, sang mertua meninggal dunia sehingga Dato Godam tidak meneruskan perjalanannya ke Minangkabau. Akhirnya Dato Godam memutuskan menetap di Pusa sampai meninggal dunia dan dimakamkan di sana. Makam Dato Godam dan mertuanya terletak di dekat Sungai Telit. Sedangkan tidak jauh dari sana terdapat satu batu nisan Tandang Sari. Paras rupa istri Dato Godam tersebut sangat cantik dan konon kabarnya, Tandang Sari kemudian bunuh diri untuk menghindari fitnah orang banyak akibat banyaknya laki-laki yang tergila-gila dan mengikutinya.

Sejak meninggalnya Dato Godam, Manteri Uban tidak kembali ke Minangkabau dan tetap tinggal di Serawak. Meskipun pernah ke Minangkabau untuk berziarah, beliau kemudian kembali lagi ke Serawak. Bekas kapal yang digunakan untuk berlayar ke Minangkabau itu masih bisa ditemui di Seri Aman, Serawak sampai saat ini.

(Oleh: H. Efri Yoni) Baikoenihttp://baikoeni.multiply.com/journal/item/6/6

http://jannaton.net/salasilah/SilsilahRajaMinangkabauNSJannatonKaul.pdf

--------------------

Sinopsis dari Buku Dato Godam I, http://www.pusat-sejarah.gov.bn/b-datogodam-sinopsis.htm

Buku Dato Godam ini merupakan jilid yang pertama. Kandungannya antara lain mencatatkan susur-galur dan jurai keturunan Dato Godam hingga masa kini. Dato Godam atau Raja Umar bin Bendahara Harun adalah putera Diraja Minangkabau yang datang dan berkahwin di Brunei pada zaman pemerintahan Sultan Nasruddin ( Sultan Brunei Ke-15, memerintah 1690-1710). Menurut Sejarah Brunei, khususnya pada zaman yang disebutkan, diriwayatkan bahawa Dato Godam mempunyai peranan yang istimewa dalam membantu Sultan Nasruddin menjalankan pemerintahan dan pentadbiran baginda. Sebagai mengingati jasa-jasa beliau itu, Sultan Brunei telah berjanji akan mengurniakan keistimewaan kepada anak cucu Dato Godam yang ada di Brunei turun-temurun. Sehingga zaman ini keturunan Dato Godam tersebut dianggap sebagai keluarga yang bertaraf tinggi sebagaimana taraf Dato Godam di Minangkabau, dan mereka digolongkan sebagai keturunan Awang-Awang Damit'. Daripada keturunan Dato Godam inilah juga dipilih oleh Sultan-Sultan Brunei untuk dikurniakan gelaran 'Manteri', iaitu pembesar negara yang turun-temurun, sebagaimana akan dinyatakan riwayat sebahagiannya dalam buku ini.

Buku ini mengandungi 32 bab yang memaparkan beberapa tokoh utama daripada kalangan keturunan Dato Godam iaitu Manteri Uban, Manteri Puteh, Manteri Omar, Pehin Tuan Iman Awang Aminudin, Pehin Jawatan Dalam Awang Ahad, Awang Untong, Nakhoda Asmat, Pehin Orang Kaya Laila Pahlawan Tunjol, Syed Hasan, Bungku Zaleha, Dayang Sharbanun, Awang Badaruddin, Awang Tahir, Awang Muhammad, Dayang Lamiah, Awang Abu Bakar, Pehin Khatib Haji Awang Abdul Latif, Pehin Datu Perdana Manteri Radin Haji Abdul Rahman, Nakhoda Haji Awang Abbas, Pehin Orang Kaya Ratna Diraja Awang Abdul Karim, Pehin Datu Perdana Menteri, Pehin Orang Kaya Digadong Seri Nara Indera Pengiran Seri Ahmad, Awang Mirasan, Awang Ibrahim, Penglima Othman, Awang Sulaiman, Awang Aliuddin, Manteri Mariam, Awang Abdul Hgafur, Awang Mat Serudin, dan Pehin Orang Kaya Shahbandar Awang Muhammad Salleh. Tokoh-tokoh inilah yang menurunkan zuriat Dato Godam hingga sekarang.

Diharapkan buku ini akan dapat menjadi rujukan bagi mereka yang berkenaan dalam menentukan asal usul dan jalinan keluarga masing-masing. Di samping itu akan dapat pula merapatkan semula hubungan kekeluargaan mereka yang bertempiaran supaya tidak akan terus menular mengikut arus yang boleh merenggangkan atau memutuskan hubungan tersebut.