Adityawarman [EM] / YDPS MAHARAJA ADITYAWARMAN, 19th Minangkabau Sultan (1347 - 1375), Pagaruyung, makam di Kubu Rajo Limo Kaum .

public profile

Is your surname .?

Research the . family

Adityawarman [EM] / YDPS MAHARAJA ADITYAWARMAN, 19th Minangkabau Sultan (1347 - 1375), Pagaruyung, makam di Kubu Rajo Limo Kaum .'s Geni Profile

Share your family tree and photos with the people you know and love

  • Build your family tree online
  • Share photos and videos
  • Smart Matching™ technology
  • Free!

Share

Adityawarman [EM] / YDPS MAHARAJA ADITYAWARMAN, 19th Minangkabau Sultan (1347 - 1375), Pagaruyung, makam di Kubu Rajo Limo Kaum .

Also Known As: "Dang Tuanku", "Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa", "Tuan Janaka", "Mantrolot Warmadewa", "Kanakamedinindra (Lord of the Golden Earth)", "Maharaja Di Raya of Malayapura & Minangkabau (1347-1374)", "Srimat Sri Ud..."
Birthdate:
Birthplace: Pagaruyung, Batusangkar, West Sumatra, Indonesia
Death: Died
Place of Burial: Batusangkar, Tanah Datar, West Sumatra, Indonesia
Immediate Family:

Son of <private> . and <private> .
Husband of Brahmanigereges, Puteri Kediri Bali Tuan Gadih Puti Jamilan, Minangkabau. Brahmanigereges; <private> Fulan; Puti Bongsu Raja Muda (t19); Tuan Gadih Puti Jamilan -pagar ruyung; Cindur Mata Selamat Panjang Gombak and 1 other
Father of Arya Kenceng 1343; <private> Adityawarman; <private> Adityawarman; Dewi Reno Dewi Sanggowani [EM] . and Ananggawarman [EM] / Maharaja Ananggawarman (XX) .
Brother of pangeran arya kenceng
Half brother of Maharaja prabu diwastu cakradara kertawardhana,; pangeran arya damar adityavarman warmadeva; pangeran arya kutawandira; pangeran arya sentong; pangeran arya belog and 1 other

Managed by: Ari Harmedi Memed
Last Updated:
view all 23

Immediate Family

About Adityawarman [EM] / YDPS MAHARAJA ADITYAWARMAN, 19th Minangkabau Sultan (1347 - 1375), Pagaruyung, makam di Kubu Rajo Limo Kaum .

Note 29 May 2016/em: Terjadi penggabungan beberapa versi yg sebenarnya tidak bisa digabungkan

Note on 18 Jan 2015/em: Separation for Arya Damar and Adityawarman based on the difference Kingdoms (Pagaruyung and Palembang) downto their descendants
http://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Damar
http://id.wikipedia.org/wiki/Adityawarman
MEDIA-NOTES:
Code: RP04
t With: 008/rp04/tg03
Next: 016/RP05

Berdasarkan Prasasti Kuburajo,[2] Adityawarman adalah putra dari Adwayawarman. Akan tetapi, dalam Prasasti Bukit Gombak disebutkan bahwa Adityawarman adalah putra dari Adwayadwaja.[3] Nama ini mirip dengan nama salah seorang pejabat penting Kerajaan Singhasari (Rakryān Mahāmantri Dyah Adwayabrahma) yang pada tahun 1286 mengantar Arca Amoghapasa untuk dipahatkan di Dharmasraya sebagai hadiah dari Raja Singhasari Kertanagara kepada Raja Melayu Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa.

Adityawarman dalam Pararaton[4] dan Kidung Panji Wijayakrama disebut dengan nama Tuhan Janaka yang bergelar Mantrolot Warmadewa. Ibunya bernama Dara Jingga putri Kerajaan Melayu di Dharmasraya. Dara Jingga bersama adiknya Dara Petak ikut bersama tim Ekspedisi Pamalayu yang kembali ke Jawa pada tahun 1293. Ahli waris Kertanagara yang bernama Raden Wijaya mengambil Dara Petak sebagai permaisuri dan bahwa Dara Jingga sira alaki dewa, yaitu bersuamikan kepada seorang “dewa” (bangsawan).

Pendapat lain mengatakan bahwa Adityawarman juga merupakan anak dari Raden Wijaya, yang berarti Raden Wijaya bukan hanya memperistri Dara Petak melainkan juga Dara Jingga. Penafsiran ini mungkin karena dalam Nagarakretagama disebutkan Raden Wijaya telah memperistri keempat putri Kertanagara.[5]

Muhammad Yamin berpendapat bahwa Adityawarman lahir di Siguntur (Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat sekarang). Ketika muda ia berangkat pergi ke Majapahit, karena ayah atau ibunya mempunyai perhubungan darah dengan permaisuri raja Majapahit pertama, Kertarajasa Jayawardana. Adityawarman dianggap saudara dari Raja Jayanegara yang tidak memiliki putra. Oleh karena itu, menurut adat Adityawarmanlah yang paling dekat untuk pengganti mahkota.[6]

Maharaja Arrya Adityawarman (XIX) Pagar Ruyung


(abad ke 14)
(Also known as: Dang Tuanku, Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa, Tuan Janaka, Mantrolot Warmadewa, Kanakamedinindra (Lord of the Golden Earth).

Adityawarman (also Adityavarman), according to a 16th century Javanese text, was the son of a princess of the Kingdom of Dharmasraya captured in 1263 and a Javanese prince. He was related to the royal house of Majapahit and brought up in that kingdom's kraton.

His name in Sanskrit means "(He who has a) shield (varman) the Sun (adhitya)".

Adityawarman conquered Jambi region in Sumatra, and later the Tanah Datar region in central Sumatra to take control of the gold trade. Adityawarman then founded the royal dynasty of Minangkabau in Pagar Ruyung and presided over the central Sumatra region between 1347 and 1375.

He had two royal consorts:

1/Puteri Kediri Bali Brahmanigereges (Kraton Bali)

2/Tuan Gadih Puti Jamilan (Pagaruyung)


Also known as Dewang Palokamo Rajo Indo Deowano, Srimat Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Maulimali Warmadewa, Sri Maharajadhiraja Kenakamedinidra (Tuwanku Bagindo Sari Maharajo Dirajo) ; Lord of the Golden Earth (Kanakamedinindra), Sang Arya Dewaraja Mpu Aditya Mantrolot Warmadewa (Sengk'ia-lie-yu-lan), Maharaja Di Raja of Malayapura & Minangkabau, Lord of Suravasa (Suruaso/ Pagarruyung).

Believed to be the greatest "Sorceror King" in the Mahayana Buddhist era; portrayed in a Bhairava (destructive manifestation of Shiva) statue and his glory inscribed at the back of the Amoghapasa statue (both statues now at National Museum of Indonesia in Jakarta); see http://en.wikipedia.org/wiki/Adityavarman http://en.wikipedia.org/wiki/Amoghapasa_inscription http://en.wikipedia.org/wiki/Padang_Roco_inscription


Adityawarman adalah pangeran berdarah campuran Jawa–Sumatra yang mendirikan Kerajaan Pagaruyung pada tahun 1339, dengan bergelar Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Mauli Warmadewa. Adityawarman adalah putra dari Adwayawarman menurut prasasti Kuburajo, atau Adwayadwaja menurut prasasti Bukit Gombak. Nama ayahnya ini mirip dengan Adwayabrahma dalam prasasti Padangroco, yaitu seorang pejabat Kerajaan Singhasari yang ikut mengantar arca Amoghapasa sebagai hadiah untuk Kerajaan Dharmasraya pada tahun 1286.

Raja Dharmasraya saat itu adalah Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa. Terlihat adanya kemiripan gelar sehingga dapat diduga kalau Adityawarman adalah keturunan dari Tribhuwanaraja.

Adityawarman dalam Pararaton disebut dengan nama Tuan Janaka yang bergelar Mantrolot Warmadewa [1]. Ibunya bernama Dara Jingga putri Kerajaan Malayu. Dara Jingga bersama adiknya yang bernama Dara Petak tiba di Jawa pada tahun 1293 dikawal oleh Kebo Anabrang, seorang perwira Singhasari yang ditugasi Kertanagara untuk menaklukkan Sumatra. Ahli waris Kertanagara yang bernama Raden Wijaya mengambil Dara Petak dan menyerahkan Dara Jingga kepada seorang “dewa”.

Kerajaan Malayu identik dengan Dharmasraya sehingga Dara Jingga dapat disebut sebagai putri Tribhuwanaraja. Suaminya yang disebut “dewa” ditafsirkan sebagai Adwayabrahma, yaitu pejabat tingkat tinggi berpangkat Rakryan Mahamantri dalam pemerintahan Kertanagara.

Jadi kesimpulannya, Adityawarman adalah putra Adwayabrahma seorang pejabat tinggi Singhasari yang lahir dari Dara Jingga putri raja Dharmasraya.

Adityawarman dilahirkan di Majapahit saat pemerintahan Raden Wijaya (1293–1309). Menurut Pararaton, raja kedua Majapahit, yaitu Jayanagara, adalah putra Raden Wijaya yang lahir dari Dara Petak. Dengan demikian, hubungan antara Adityawarman dengan Jayanagara adalah saudara sepupu sesama cucu Srimat Tribhuwanaraja.

Ketika Jayanagara menjadi raja, Adityawarman diangkat sebagai duta besar Majapahit untuk Cina pada tahun 1325. Dalam catatan Cina ia disebut dengan nama Seng-kia-lie-yulan. Saat itu Cina sedang dikuasai oleh Dinasti Yuan yang pernah mencoba menaklukkan Jawa pada zaman Raden Wijaya. Pengiriman duta ini menunjukkan adanya perdamaian antara Majapahit dengan bangsa Mongol.

Pada pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi (adik Jayanagara), Adityawarman diangkat sebagai Wreddhamantri, atau menteri senior. Namanya tercatat dalam prasasti Blitar tahun 1330 sebagai Sang Arya Dewaraja Mpu Aditya. Demikian pula pada prasasti Manjusri tahun 1343 disebutkan bahwa, Adityawarman menempatkan arca Maٍjuçrī (salah satu sosok bodhisattva) di tempat pendarmaan Jina (Buddha) dan membangun candi Buddha di Bumi Jawa untuk menghormati orang tua dan para kerabatnya.

Identifikasi dengan Arya Damar

Arya Damar adalah tokoh dalam Kidung Pamacangah dan Babad Arya Tabanan sebagai bupati Palembang yang berjasa membantu Gajah Mada menaklukkan Bali pada tahun 1343 [3]. Tokoh Arya Damar ini berasal dari Kediri. Sejarawan Prof. C.C. Berg menganggapnya identik dengan Adityawarman.

Sementara itu catatan Dinasti Ming menyebut di Sumatra terdapat tiga orang raja. Mereka adalah Seng-kia-li-yulan, Ma-ha-na-po-lin-pang, dan Ma-na-cha-wu-li. Ketiganya merupakan sebutan untuk Adityawarman, Maharaja Palembang, dan Maharaja Mauli.[rujukan?] Berdasarkan berita Cina tersebut, Adityawarman tidak sama dengan raja Palembang alias Arya Damar.Jadi, pada zaman Majapahit tersebut, Pulau Sumatra dipecah menjadi tiga bagian, yaitu Pagaruyung dipimpin Adityawarman, Palembang dipimpin Arya Damar, dan Dharmasraya dipimpin Mauli. Mungkin raja Dharmasraya ini adalah keturunan Srimat Tribhuwanaraja.[rujukan?] Bisa jadi ia adalah paman atau mungkin sepupu Adityawarman.

Pada tahun 1339 Adityawarman dikirim sebagai uparaja atau raja bawahan Majapahit untuk wilayah Pulau Sumatra. Ia mendirikan istana baru bernama Malayapura di Pagaruyung (daerah Minangkabau) karena tidak mempunyai hak atas takhta Kerajaan Dharmasraya.

Selanjutnya, Adityawarman pun menjalankan misi penaklukkan Sumatra bagian utara yang saat itu dikuasai oleh Indrawarman raja Kerajaan Silo. Indrawarman adalah bekas tentara Singhasari yang menolak kedaulatan Majapahit dan memilih mendirikan kerajaan sendiri di daerah Simalungun.

Namun kesetiaan Adityawarman terhadap Majapahit luntur sepeninggal Gajah Mada. Pada tahun 1375 ia mengirim duta ke Cina untuk meminta bantuan dalam usaha memerdekakan diri. Tidak lama setelah itu, Adityawarman meninggal dan digantikan oleh putranya yang bernama Ananggawarman.

Pada tahun 1409 pasukan Majapahit tiba di Sumatra untuk menumpas pemberontakan Pagaruyung. Namun saat itu masa kejayaan Majapahit sudah berakhir di mana pasukannya dapat dipukul mundur di Padang Sibusuk. Meskipun demikian, istana Pagaruyung sendiri diserang dari arah lain oleh kaum adat sendiri.[rujukan?] Suku asli Minangkabau tersebut dipimpin oleh Rajo Tigo Selo, yang dibantu oleh Basa Ampat Balai. Daerah-daerah Siak, Kampar dan Indragiri kemudian lepas dan ditaklukkan oleh Kesultanan Malaka dan Kesultanan Aceh [4], dan kemudian menjadi negara-negara merdeka.

Agama

Adityawarman diperkirakan penganut yang taat dari agama sinkretis Buddha Tantrayana dan Hindu Siwa, sebagaimana yang banyak dianut oleh para bangsawan Singhasari dan Majapahit. Ia diperlambangkan dengan arca Bhairawa Amoghapasa. Selama masa pemerintahannya di Pagaruyung, Adityawarman banyak mendirikan biaro (bahasa Minang, artinya vihara) dan candi sebagai tempat pemujaan Dewa Yang Agung. Sampai sekarang, masih dikenal nama tempat Parhyangan yang kemudian berubah tutur menjadi Pariangan, yaitu di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

view all 14

Adityawarman [EM] / YDPS MAHARAJA ADITYAWARMAN, 19th Minangkabau Sultan (1347 - 1375), Pagaruyung, makam di Kubu Rajo Limo Kaum .'s Timeline