Maharaja Tumapel IV - Wisnuwardhana (1250-1272)

public profile

Is your surname Anusapati?

Research the Anusapati family

Maharaja Tumapel IV - Wisnuwardhana (1250-1272)'s Geni Profile

Records for [52 Seminingrat Anusapati]

12 Records

Share your family tree and photos with the people you know and love

  • Build your family tree online
  • Share photos and videos
  • Smart Matching™ technology
  • Free!

Share

[52] Seminingrat bin Anusapati (Seminingrat)

Also Known As: "Wisnuwardhana", "Ranggawuni", "Jayawisnuwarddhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana", "Sri Jayawisnuwarddhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana"
Birthdate:
Death: Died in Kutaraja, Tumapel
Place of Burial: Candi Jago, Waleri, Jayaghu
Immediate Family:

Son of Maharaja Tumapel II - Anusapati (1247-1249) and [51] NN (Istri Anusapati) bint Fulan
Husband of Mahisa Wong Campaka (Ratu Angabhaya) (t19) and [52] Jayawardhani bint Mahesa Wong Ateleng
Father of Maharaja Tumapel V - Kertanagara (1272-1292); Raden Wijaya (andera Kala); Sri Hismatupa Kumala ranggawuni singsari; Lembu Tal -singhasari and [53] Turuk Bali bint Wisnuwardhana
Brother of [52] NN (Putri Anusapati) bint Anusapati

Managed by: Private User
Last Updated:

About Maharaja Tumapel IV - Wisnuwardhana (1250-1272)

Sri Jaya Wisnuwardhana. Membunuh Tohjaya untuk menjadi Raja Singhasari 1248-1254M.


Menurut Pararaton, nama asli Wisnuwardhana adalah Ranggawuni putra Anusapati putra Tunggul Ametung. Pada tahun 1249 Anusapati tewas oleh kudeta licik yang dilakukan adik tirinya, bernama Tohjaya putra Ken Arok dari selir.

Pada tahun 1250 Tohjaya dihasut pembantunya yang bernama Pranaraja supaya menyingkirkan kedua keponakannya, yaitu Ranggawuni dan Mahisa Campaka, yang dianggap bisa menjadi musuh berbahaya. Tohjaya kemudian memerintahkan pengawalnya, bernama Lembu Ampal untuk melaksanakan eksekusi.

Lembu Ampal gagal melaksanakan tugas karena kedua pangeran tersebut dilindungi oleh seorang pegawai istana bernama Panji Patipati. Karena takut mendapat hukuman dari Tohjaya, Lembu Ampal memilih bergabung dengan kelompok Ranggawuni.

Lembu Ampal kemudian melakukan adu domba di dalam tubuh angkatan perang Singhasari sehingga tercipta kekacauan. Karena tidak mampu mendamaikan kerusuhan tersebut, Tohjaya berniat menghukum mati para pemimpin tentaranya. Mendengar keputusan itu, para perwira segera bergabung dengan kelompok Ranggawuni, tentu saja atas ajakan Lembu Ampal.

Setelah mendapat dukungan dari kaum tentara, Ranggawuni dan Mahisa Campaka memberontak terhadap kekuasaan Tohjaya. Tohjaya terluka parah dan akhirnya meninggal dalam pelariannya di desa Katang Lumbang.

Setelah pemberontakan tersebut, Ranggawuni naik takhta bergelar Wisnuwardhana, sedangkan Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya bergelar Narasinghamurti. Adapun Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng, atau cucu Ken Arok.

Pemerintahan bersama antara Wisnuwardhana dan Narasingamurti diibaratkan dua ular dalam satu liang, dan dimaksudkan untuk menciptakan perdamaian antara keluarga Tunggul Ametung dan keluarga Ken Arok.

Pemerintahan Wisnuwardhana berakhir tahun 1272, setahun setelah peresmian pelabuhan Canggu di daerah Mojokerto sekarang.

====

Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 juga menyebutkan adanya pemerintahan bersama antara Wisnuwardhana dan Narasingamurti yang diibaratkan seperti Wisnu dan Indra. Namun bedanya, Wisnuwardhana naik takhta menggantikan Anusapati tahun 1248, bukan menggantikan Tohjaya tahun 1250.

Pada tahun 1254 Wisnuwardhana meresmikan Singhasari sebagai ibu kota Kerajaan Tumapel. Sebelumnya, nama ibu kota kerajaan ini adalah Kutaraja. Seiring berjalannya waktu, nama Kerajaan Singhasari justru lebih populer daripada Kerajaan Tumapel.

Pada tahun 1254 Wisnuwardhana juga mengangkat putranya yang bernama Kertanagara sebagai raja. Ia sendiri akhirnya meninggal dunia tahun 1270.

====

Berita dalam Nagarakretagama bahwa Wisnuwardhana naik takhta tahun 1248 terbukti dengan ditemukannya prasasti Maribong. Prasasti ini dikeluarkan oleh Wisnuwardhana pada tanggal 23 September 1248. Selain itu, prasasti Mula Malurung (1255) juga menyebutkan bahwa Tohjaya bukan raja Tumapel atau Singhasari, melainkan raja Kadiri.

Baik Nagarakretagama ataupun Pararaton mengisahkan Wisnuwardhana menghancurkan pemberontakan Linggapati di Mahibit. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1252.

Berita dalam Nagarakretagama bahwa Kertanagara naik takhta tahun 1254 terbukti keliru, karena dalam prasasti Mula Malurung pada tahun 1255 Kertanagara masih menjabat sebagai raja muda di Kadiri, sementara Tumapel atau Singhasari tetap dipimpin Wisnuwardhana. Mungkin yang dimaksud Kertanagara naik takhta tahun 1254 adalah sebagai yuwaraja, bukan sebagai maharaja.

Menurut prasasti Mula Malurung, Wisnuwardhana mempersatukan kembali Kerajaan Tumapel dengan Kadiri sepeninggal Tohjaya. Berita ini tidak pernah disinggung dalam Pararaton ataupun Nagarakretagama. Kiranya sepeninggal Ken Arok terjadi perpecahan yang menyebabkan Kadiri pisah dari Tumapel.

Tahun kematian Wisnuwardhana menurut Pararaton adalah 1272, sedangkan menurut Nagarakretagama adalah 1270. Kedua naskah menyebutkan Wisnuwardhana dicandikan di Waleri sebagai Siwa dan di Jajagu sebagai Buddha.

Namun berdasarkan analisis bukti prasasti, Kertanagara sudah menjadi raja penuh sekitar tahun 1268. Prasasti-prasastinya yang berangka tahun 1267 masih menyebut Kertanagara sebagai raja muda.

Nagarakretagama tidak menyebutkan siapa nama asli Wisnuwardhana. Nama Ranggawuni sendiri tidak pernah dijumpai dalam prasasti apa pun sehingga diduga merupakan nama ciptaan Pararaton.

Dalam prasasti Mula Malurung (1255) disebutkan kalau ayah dari Kertanagara bernama Seminingrat. Nama Seminingrat juga ditemukan dalam prasasti Maribong (1248) sebagai nama lain Wisnuwardhana. Selain itu prasasti Mula Malurung juga menyebutkan kalau ibu Kertanagara bernama Waning Hyun yang merupakan sepupu Seminingrat sendiri. Dalam prasasti Wurare (1289), Kertanagara menyebut ibunya bernama Jayawardhani. Jadi, nama Jayawardhani merupakan gelar resmi dari Waning Hyun.

Berdasarkan bukti prasasti tersebut, dapat disimpulkan bahwa, nama asli Wisnuwardhana adalah Seminingrat, sedangkan Ranggawuni hanyalah nama ciptaan pengarang Pararaton.