Mahisa Wong Campaka (Ratu Angabhaya)

public profile

Mahisa Wong Campaka (Ratu Angabhaya)'s Geni Profile

Share your family tree and photos with the people you know and love

  • Build your family tree online
  • Share photos and videos
  • Smart Matching™ technology
  • Free!

Share

Mahisa Cempaka / Ratu Angabhaya / Batara Narasinga

Also Known As: "deceased"
Birthdate:
Death: Died
Immediate Family:

Daughter of Raja Kediri X - Mahesa Wong Ateleng (1222-1230) and dewi suhito putri hyang wisesa -majapahit
Wife of Maharaja Tumapel IV - Wisnuwardhana (1250-1272)
Mother of Raden Wijaya (andera Kala); Sri Hismatupa Kumala ranggawuni singsari and Dyah Lembu Tal (Singhamurti)
Sister of guningbhaya -singhasari
Half sister of Raja Kediri XII - Narasinghamurti (1249-1269) and Waning Hyun (Jayawardhani) bint .

Managed by: Private User
Last Updated:

About Mahisa Wong Campaka (Ratu Angabhaya)

Mahisa Wong Campaka bergelar Ratu Angabhaya bergelar Narasimhamurti.


Mahisa Campaka (lahir: ? - wafat: 1269) adalah tokoh dalam Pararaton yang dianggap sebagai nama asli dari Bhatara Narasinghamurti, yaitu kakek Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.

Menurut Pararaton, Mahisa Campaka adalah putra dari Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel (atau lebih terkenal Singhasari). Namanya muncul pertama kali dalam kisah pelantikan Tohjaya sebagai raja Tumapel menggantikan Anusapati tahun 1249.

Akibat hasutan dari pembantunya yang bernama Pranaraja, Tohjaya berniat membunuh Mahisa Campaka dan sepupunya, Ranggawuni (putra Anusapati) karena keduanya dianggap berbahaya terhadap kelangsungan takhta. Usaha pembunuhan itu gagal. Mahisa Campaka dan Ranggawuni justru mendapat dukungan kuat dari tentara Tumapel dan berbalik menggulingkan Tohjaya tahun 1250.

Setelah Tohjaya tewas, Ranggawuni menjadi raja Tumapel bergelar Wisnuwardhana, sedangkan Mahisa Campaka menjabat Ratu Angabhaya bergelar Bhatara Narasinghamurti. Keduanya memerintah berdampingan. Hal itu dimaksudkan untuk menciptakan kerukunan di antara keturunan Ken Arok (dalam hal ini diwakili Narasinghamurti) dan keturunan Tunggul Ametung (yang diwakili Wisnuwardhana). Pemerintahan bersama itu dalam Pararaton diibaratkan seperti dua ular dalam satu liang.

Nama Narasinghamurti juga terdapat dalam Nagarakretagama yang ditulis pada tahun 1365. Dikisahkan bahwa, Wisnuwardhana dan Narasinghamurti memerintah bersama di Tumapel bagaikan sepasang dewata, Wisnu dan Indra.

Nama Narasinghamurti juga ditemukan dalam prasasti Penampihan, sehingga dapat dipastikan kalau nama ini bukan sekadar ciptaan Pararaton atau Nagarakretagama. Akan tetapi, Mahisa Campaka sebagai nama asli Narasinghamurti hanya terdapat dalam Pararaton yang ditulis ratusan tahun sejak kematiannya, sehingga kebenarannya perlu untuk dibuktikan.

Prasasti Mula Malurung yang dikeluarkan oleh Wisnuwardhana tahun 1255 mencantumkan daftar nama para raja bawahan Tumapel namun tidak menyebutkan adanya nama Narasinghamurti di dalamnya. Hal ini terasa aneh karena menurut Pararaton dan Nagarakretagama, Narasinghamurti adalah tokoh penting dalam pemerintahan Wisnuwardhana.

Namun demikian, dalam daftar tersebut ditemukan nama yang mirip dengan Narasinghamurti yaitu Narajaya penguasa Hering. Selain itu, Narajaya juga disebut sebagai sepupu raja. Sejarawan Slamet Muljana menganggap Narajaya sebagai nama asli Narasinghamurti, sedangkan Mahisa Campaka adalah nama ciptaan Pararaton.Prasasti Penampihan yang dikeluarkan oleh Kertanagara (putra Wisnuwardhana) menyebut Narasinghamurti meninggal dunia tahun 1269.

Menurut Pararaton Narasinghamurti memiliki putra bernama Raden Wijaya yang kelak mendirikan Kerajaan Majapahit. Sementara itu, Nagarakretagama menyebut Raden Wijaya adalah putra Lembu Tal putra Narasinghamurti. Dengan kata lain, Raden Wijaya adalah cucu Narasinghamurti.