Paku Buwono I (Pangeran Puger)

public profile

Paku Buwono I (Pangeran Puger)'s Geni Profile

Share your family tree and photos with the people you know and love

  • Build your family tree online
  • Share photos and videos
  • Smart Matching™ technology
  • Free!

Share

Pakubuwana I Pangeran Puger Raden Mas Darajat (1705-1719), I

Also Known As: "Pangeran Puger", "deceased", "Sampeyan Dalem Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati Ingalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Khalifatulah Tanah Jawa", "Raden Mas Darajat"
Birthdate:
Death: Died
Place of Burial: Imogiri, DIY, Indonesia
Immediate Family:

Son of <private> and Kanjeng Ratu Kulon / K.R. Plabuhan (putri keluarga Kejoran) Ratu Wetan
Husband of ?; Ratu Mas Blitar; <private> .; R. Ay. Sendhi; Mas Ajeng Tejawati and 5 others
Father of As-Sayyid ABDURRAHMAN Ba'Abud (Pangeran Puger Paku Buwono 1) Sultan Mataram Islam 8 Ba'Abud; Ratu Wandansari; Pangeran Hario Mangkunegoro; R.M. Suryo Putro (Prabu Mangkurat Djawa ing Kartasura); B.P.A. Purubaya and 21 others
Brother of <private>; Bandara Raden Ayu Danureja / Bra. Bendara and BRAy. Kelenting Kuning
Half brother of R. Ay. Dewi Mulat; Kanjeng Pangeran Ario Adinegoro .; <private> .; <private> .; <private> . and 24 others

Occupation: Senapati ing Ngalaga Kartasura
Managed by: Private User
Last Updated:

About Paku Buwono I (Pangeran Puger)

Susuhunan Pakubuwono I (1704-1719)


When Amangkurat II died in 1703, one of his sons ascended the throne as Amangkurat III, or Sunan Mas (r.1703-08). However, one of the late Amangkurat II's brothers, Pangeran Puger, who was also a son of Amangkurat I (t 1677) and thus an uncle of Amangkurat III, almost immediately challenged the latter's right to succeed. The rebellious Pangeran Puger requested Dutch support as rightful ruler of Mataram. The Dutch decided to assist Pangeran Puger in his attempts to replace the new sunan, for they believed that Amangkurat III, who had teamed up with a powerful, charismatic Balinese leader named Suropati, was plotting against them.

Pangeran Puger was supported by most of the Mataram aristocracy. He had another ally in Panembahan Wijil of Kadilangu, another wellrespected religious and spiritual leader in the northern Javanese region of Kadilangu. With Dutch arms Pangeran Puger and his forces were able to capture the court, after which Amangkurat III fled; Surapati and his troops retreated to the area near Surabaya. Here they initially put up a fierce resistance against a combined Dutch-Javanese military force. However, they were eventually defeated and

Surapati died in captivity, allegedly of wounds sustained in battle. Pangeran Puger meanwhile was crowned in Semarang, by the Dutch (in 1703). Upon his return to Kartasura in 1704, he was formally installed as Paku Buwono 1. In return for Dutch assistance the new ruler of Mataram surrendered several districts in Parahyangan (the hinterland of West Java), Cirebon, and Madura, and agreed to provide a certain amount of rice annually to the VOC. Amangkurat III was finally captured in 1707 and exiled to Sri Lanka. Thus ended what western historians call the 'First Javanese War of Succession'.


Pangeran Puger dalam sejarah Kesultanan Mataram merujuk pada beberapa nama, yang terkenal antara lain, putra Panembahan Senopati dan putra Amangkurat I. Kedua tokoh ini hidup pada zaman yang berbeda.

Pangeran Puger yang kedua (putra Amangkurat I) naik takhta menjadi raja Kasunanan Kartasura tahun 1704-1719, bergelar Sunan Pakubuwana I.

Nama aslinya Raden Mas Drajat, lahir dari permaisuri keturunan Keluarga Kajoran.

Mas Drajat pernah diangkat menjadi putra mahkota menggantikan kakaknya, yaitu Mas Rahmat yang berselisih dengan ayah mereka (Amangkurat I). Namun jabatan tersebut kemudian dikembalikan lagi pada Mas Rahmat karena Keluarga Kajoran terlibat pemberontakan Trunojoyo. Mas Rahmat kembali bergelar Pangeran Adipati Anom, sedangkan Mas Drajat kembali bergelar Pangeran Puger.

Ketika terjadi serbuan Trunojoyo tahun 1677, Adipati Anom menolak ditugasi ayahnya mempertahankan Plered, ibu kota Mataram, dan memilih ikut mengungsi ke barat. Pangeran Puger tampil melaksanakan tugas itu sebagai bukti kalau tidak semua keturunan Kajoran mendukung Trunojoyo. Namun kekuatan kaum pemberontak terlalu besar sehingga Puger kalah dan menyingkir ke Jenar.

Pangeran Puger kemudian mendirikan Kerajaan Purwakanda berpusat di Jenar. Ia mengangkat diri sebagai raja bergelar Susuhunan Ingalaga. Setelah Trunojoyo kembali ke markasnya di Kediri, Sunan Ingalaga segera merebut Plered dan mengusir anak buah Trunojoyo yang ditempatkan di kota itu.Amangkurat I meninggal dalam pengungsian. Adipati Anom menjadi raja tanpa takhta bergelar Amangkurat II. Dengan bantuan VOC, pasukan Amangkurat II berhasil menumpas Trunojoyo akhir tahun 1679.

Karena Plered diduduki Sunan Ingalaga, Amangkurat II memilih membangun keraton baru bernama Kartasura pada bulan September 1680. Ia kemudian memanggil Sunan Ingalaga supaya bergabung di Kartasura.

Ajakan itu ditolak. Maka terjadilah perang saudara. Akhirnya, pada tanggal 28 November 1681 Sunan Ingalaga menyerah kepada Jacob Couper, pemimpin pasukan VOC yang membantu Amangkurat II. Sunan Ingalaga pun kembali bergelar Pangeran Puger dan mengakui kedaulatan kakaknya sebagai Amangkurat II.

Antara kedua bersaudara, Amangkurat II dan Pangeran Puger, terdapat perbedaan sifat yang mencolok. Amangkurat II dikisahkan bersifat lemah hati dan tidak teguh pendirian. Sebaliknya, Pangeran Puger jauh lebih tegas. Itulah sebabnya Pangeran Puger diangkat sebagai tangan kanan Amangkurat II dan lebih berperan penting dalam pemerintahan daripada kakaknya, yang hanya bersifat sebagai simbol.Amangkurat II naik takhta berkat bantuan VOC, tentu saja dengan perjanjian yang memberatkan Kartasura. Ketika keadaan sudah aman, Patih Nerangkusuma yang anti Belanda mendesaknya supaya mengkhianati perjanjian.

Pada tahun 1685 Amangkurat II melindungi buronan VOC bernama Untung Suropati. Kapten Francois Tack datang ke Kartasura untuk menangkap si pelarian. Amangkurat II pura-pura membantu VOC. Namun diam-diam, ia juga menugasi Pangeran Puger supaya menyamar sebagai anak buah Untung Suropati.

Dalam pertempuran sengit di sekitar keraton Kartasura bulan Februari 1686, tentara VOC sebanyak 75 orang tewas ditumpas pasukan Untung Suropati. Pangeran Puger sendiri berhasil membunuh Kapten Tack menggunakan tombak Kyai Plered.

Amangkurat II meninggal dunia tahun 1703. Takhta Kartasura jatuh ke tangan putranya yang bergelar Amangkurat III. Menurut Babad Tanah Jawi, ketika Pangeran Puger datang melayat, ia melihat kemaluan jenazah kakaknya "berdiri". Dari ujung kemaluan muncul setitik cahaya yang diyakini sebagai wahyu keprabon. Barang siapa mendapatkan wahyu tersebut, diyakini akan menjadi raja tanah Jawa. Pangeran Puger menghisap sinar tersebut tanpa ada seorang pun yang melihat.

Sejak saat itu dukungan terhadap Pangeran Puger berdatangan karena banyak yang tidak menyukai tabiat buruk Amangkurat III. Suasana antara paman dan keponakan tersebut memanas. Kebencian Amangkurat III semakin bertambah ketika Raden Suryokusumo putra Puger memberontak.

Pada puncaknya, yaitu bulan Mei 1704 Amangkurat III mengirim pasukan untuk membinasakan keluarga Puger. Namun Pangeran Puger dan para pengikutnya lebih dulu mengungsi ke Semarang. Yang ditugasi mengejar adalah Adipati Jangrana bupati Surabaya. Adipati Jangrana sendiri sebenarnya memihak Puger sehingga pengejarannya hanya bersifat sandiwara.

Bupati Semarang yang bernama Rangga Yudanegara menjadi perantara Pangeran Puger dalam meminta bantuan VOC. Kepandaian diplomasi Yudanegara berhasil membuat VOC memaafkan peristiwa pembunuhan Kapten Tack serta menyediakan diri membantu perjuangan Pangeran Puger, tentu saja dengan perjanjian yang menguntungkan pihak VOC.

Isi Perjanjian Semarang yang terpaksa ditandatangani Pangeran Puger antara lain penyerahan wilayah Madura bagian timur kepada VOC.

Pada tanggal 6 Juli 1704 Pangeran Puger diangkat menjadi raja bergelar Susuhunan Paku Buwana Senapati Ingalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Khalifatulah Tanah Jawa, atau disingkat Pakubuwana I.

Setahun kemudian (1705) Pakubuwana I dikawal gabungan pasukan VOC, Semarang, Madura (barat), dan Surabaya bergerak menyerang Kartasura. Pasukan Kartasura yang menghadang dipimpin Arya Mataram, adik Pakubuwana I sendiri. Arya Mataram berhasil membujuk Amangkurat III supaya mengungsi ke timur, sedang ia sendiri kemudian bergabung dengan Pakubuwana I.

Dengan demikian, takhta Kartasura pun jatuh ke tangan Pakubuwana I tanggal 17 September 1705.Pemerintahan Pakubuwana I dihadapkan pada perjanjian baru dengan VOC sebagai pengganti perjanjian lama yang ditandatangani Amangkurat II. Perjanjian lama yang telah dibatalkan berisi kewajiban Kartasura untuk melunasi biaya perang Trunojoyo sebesar 4,5 juta gulden. Sedangkan perjanjian baru berisi kewajiban Kartasura untuk mengirim 13.000 ton beras setiap tahun selama 25 tahun.

Pada tahun 1706 gabungan pasukan Kartasura dan VOC mengejar Amangkurat III yang berlindung di Pasuruan. Dalam perang itu, Untung Surapati yang sudah menjadi bupati Pasuruan tewas. Amangkurat III sendiri akhirnya menyerah di Surabaya tahun 1708, untuk kemudian dibuang ke Srilanka.

Pada tahun 1709 Paku Buwana I terpaksa menghukum mati Adipati Jangrana bupati Surabaya yang telah membantunya naik takhta. Penyebabnya ialah, pihak VOC menemukan bukti kalau Adipati Jangrana berkhianat dalam perang melawan Untung Surapati tahun 1706.

Adipati Jangrana digantikan adiknya, bernama Jayapuspita sebagai bupati Surabaya. Pada tahun 1714 Jayapuspita menolak menghadap ke Kartasura dan menyusun pemberontakan. Pada tahun 1717 gabungan pasukan Kartasura dan VOC menyerbu Surabaya. Menurut Babad Tanah Jawi, perang di Surabaya ini lebih mengerikan daripada perang di Pasuruan dulu. Jayapuspita akhirnya kalah dan menyingkir ke Mojokerto tahun 1718.Paku Buwana I meninggal dunia tahun 1719. Yang menggantikan sebagai raja selanjutnya adalah putranya, yang bergelar Amangkurat IV.

Pemerintahan Amangkurat IV ini kemudian dihadapkan pada pemberontakan saudara-saudaranya, antara lain Pangeran Blitar dan Pangeran Dipanegara Madiun.Salah Seorang anak Amangkurat IV kelak bergelar Hamengkubuwana I,Sultan Yogyakarta.